Bukan Sebatas Panggung “Ekosistem dan Strategi Pengembangan Seni Pertunjukan Indonesia”

Seminar Nasional Seni Pertunjukan

23 September 2019 Concert Hall ISI Yogyakarta

Seminar sesi ke-2 
Pembicara : Nano Riantiarno / Teater Koma
Judul : Multi Media, Teater Koma
Reviewer Seminar : Kurnia Rahmad Dhani, M.A.


Adalah Teater Koma, sebuah kelompok teater yang didirikan pada 1 Maret 1977 di Jakarta oleh Riantiarno beserta rekan-rekannya. Dorongan utama dalam menciptakan dan kemudian secara konsisten memberi nafas dinamis pada Teater Koma adalah sebentuk kegelisahan dalam pencarian berbagai kemungkinan tak terbatas dan upaya-upaya untuk mewujudkannya di atas pentas. Sebagaimana makna metaforanya, Teater “Koma” dimaknai sebagai suatu cara berproses yang berkelanjutan, selalu bergerak, tidak mengenal titik, tidak pernah berhenti, tidak pernah berakhir. Tiada kata cukup, tiada kata ajeg, dan tiada kata sempurna. Pencapaian, pendekatan, maupun bentuk yang diajukan oleh Teater Koma sepanjang rentang 42 tahun hidupnya berjalan adalah manifestasi dari pencarian tak berujung. Kemungkinan-kemungkinan, eksplorasi, dan rasa tak pernah puas diri menjadi cambuk utama dalam kompulsi-obsesif pada eksperimentasi-eksperimentasi mewujudkan ide-ide di atas panggung.

Segala pendekatan layak dicoba, dan semua sumber kreatif harus dapat diuji. Pertunjukan demi pertujukan membawa pengalaman Teater Koma dalam pengujian skenografi yang sangat lengkap. Skenografi yang bahkan kerap dianggap ‘terlalu lengkap’ itu bukanlah bentuk Teater Koma sedari awal berdirinya. Sebagaimana kelompok teater lain, mereka juga berproses merespons zaman. Kelompok yang telah melakukan 158 kali pementasan hingga tahun 2019 ini tidak pernah berhenti mengeksplorasi set dan property. Pengaruh zaman, gelitikan ide dan perkembangan teknologi pun turut membuka peluang-peluang ekperimen setting artistik yang lebih menantang. Pendekatan tradisional dan digital kemudian dijodohkan dan dikawinkan, menghasilkan suatu pertunjukan ciamik. Beragam kalangan baik dari masyarakat maupun wartawan memberikan kritikan dan pujian atas perpaduan skenografi multimedia itu. Namun demikian hal itu juga bukan kemudian bentuk final, ia merupakan salah satu tapakan dari ribuan langkah alternatif dalam laku eksplorasi estetik teater. Sebagaimana dikatakan oleh Riantiarno sang pendiri, bahwa Teater Koma adalah gabungan dari teater masa lalu dan berbagai pemikiran masa kini, yang memiliki kesadaran akan pentingnya proses serta jalan panjang untuk mewujudkan suatu hasil seni pertunjukan yang baik. Teater adalah suatu peperangan tanpa akhir, yang akan dijalani tanpa ada keluh kesah dan tanpa kerut dahi.